Judul yang diterbitkan dalam Il Riformista : "Operazione di polizia contro un regime criminale"
Il Riformista: Apakah keputusan Trump untuk bergabung dengan Israel dalam menyerang Republik Islam Iran itu mengejutkan Anda?
Daniel Pipes: Ya, Trump selalu mengejutkan semua orang, bukan hanya saya. Dia mengabaikan kerangka pemikiran intelektual dan bangga membuat keputusan berdasarkan insting, dan selalu menyatakan tindakannya sebagai hal yang sangat berhasil. Tidak ada presiden yang pernah bertindak seperti ini. Mungkin tidak akan pernah ada lagi yang melakukannya. Dengan memilihnya, kaum konservatif mengambil jalan yang liar. Terkadang saya membayangkan bahwa kita orang Amerika hidup di zaman pertengahan, di bawah kepemimpinan seorang raja yang secara sewenang-wenang menentukan nasib kita.
![]() Trump mengumumkan perang AS- Israel atas Iran dalam sebuah video yang direkam sebelum disiarakan |
IR: Apa faktor utama penentu hasil perang ini?
DP: Ada tiga topik utama yang semuanya berkaitan dengan tanggapan public. Yaitu yang berkaitan dengan Iran, Amerika, dan Arab. Itulah faktor kunci apakah perang akan berakhir sebagai kemenangan atau kekalahan bagi sekutu Barat.
Akankah rakyat Iran bangkit untuk menggulingkan para penindasnya? Ini pertanyaan peringkat paling penting dari seluruh konflik. Dari apa yang kita ketahui, pertanyaan ini tidak dibahas sebelum serangan pertama pada 28 Februari, tetapi merupakan masalah "harapan sekaligus doa" bagi koalisi AS-Israel.
![]() Serangan Iran atas negara-negara Semenanjung Arab– seperti terlihat pada serangan atas Hotel Fairmont the Palm Hotel di Dubai – yang mengguncang masyarakat lokal. |
Akankah pemilih Amerika mendukung perang yang berkepanjangan? Jajak pendapat menunjukkan ada sikap skeptis yang meluas di Amerika Serikat, sebuah sikap yang hanya akan semakin dalam dan meluas jika pertempuran berlanjut lebih dari beberapa minggu. Kekhawatiran soal inflasi dan pemilihan paruh waktu pada bulan November memperburuk rentannya pemerintahan.
Akankah Negara-negara Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Country—GCC), yang cara hidup dan model bisnisnya sangat terganggu oleh rudal dan drone Iran mendekat kepada Amerika Serikat dan Israel. Atau akankah mereka membantu Iran dengan melobinya supaya mengakhiri konflik? Sejauh ini, tampaknya pemerintah bergerak untuk bergabung dengan aliansinya bahkan ketika banyak warga negara mereka justru berupaya menyenangkan hati pihak Iran.
IR: Anda mengatakan konflik perang AS-Israel itu sebuah "operasi keamanan khusus" (special police operation). Apa maksud Anda dengan pernyataan tersebut?
DP: Saya katakan perang itu operasi keamanan khusus karena ia berbeda dari serangan Rusia terhadap Ukraina. Serangan Rusia merupakan perang nyata dalam arti kita tidak tahu hasil akhir yang muncul dari medan perang tersebut. Namun, hasil akhir dari serangan AS-Israel atas Iran itu sudah bisa dipastikan. Sama seperti ketika polisi mengepung kompleks kriminal. Seperti dalam operasi yang dilakukan polisi, pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang akan menang tetapi bagaimana hal itu dicapai. Jadi, persoalannya terkait pada soal, apakah hukum dilanggar, berapa banyak kerusakan yang ditimbulkan, konsekuensi politik apa yang akan terjadi, dan sebagainya. Hal yang sama berlaku untuk perang Israel saat ini melawan Hizbullah juga perang-perang Israel sebelumnya melawan Hamas.
![]() Dalam baku tembak yang dilakukan polisi, semua orang tahu hasil akhirnya; karena ia menekankan pentingnya hal rinci dalam kasus itu. Hal yang sama juga berlaku untuk serangan AS-Israel terhadap Iran. |
IR: Menurut Anda, apa hasil yang paling mungkin muncul dari aksi militer ini?
DP: Pertanyaan kuncinya adalah apakah rezim Iran akan bertahan menghadapi perang atau tidak. Sangat sulit untuk memprediksinya selama banyak musuh rezim tetap tinggal di dalam negeri. Akankah mereka kemudian memberontak? Akankah para preman pemerintah berhasil menekan mereka? Saya sendiri cenderung memprediksi rezim akan bertahan.
IR: Apakah pemberontakan domestik diperlukan untuk menjatuhkan rezim ayatollah?
DP: Ya, saya pikir pemberontakan dalam negeri perlu untuk menjatuhkan rezim ayatollah. Pemberontakan baru tidak diperlukan jika pasukan Kurdi terbukti lebih kuat dari yang diperkirakan atau pasukan asing menduduki negara itu, yang keduanya tampaknya tidak mungkin terjadi.
![]() Perjanjian "Damai Untuk Masa Kita" yang dirancang oleh Neville Chamberlain pada tahun 1938 dengan Hitler di Munich (Jerman) mengawali tradisi untuk menyenangkan hati para diktator. |
IR: Michael Rubin dari Middle East Forum (Forum Timur Tengah) baru-baru ini menulis, "Ketika berhadapan dengan rejim jahat dan antek-anteknya, kekuatan yang kejam lebih diperlukan dibandingkan dengan diplomasi." Anda sepakat dengan pernyataan itu?
DP: Ya, saya sepakat. Kesepakatan diplomatik dengan rezim totaliter seperti dalam kasus Munich, peredaan konflik/ketegangan (détente), Perjanjian damai Oslo, Kebijakan Sinar Matahari (Sunshine Policy), Rencana Aksi Komprehensif Bersama ((Joint Comprehensive Plan of Action---JCPOA) hampir selalu berakhir membantu mereka dalam hal ini musuh Israel dan Amerika sekaligus merugikan demokrasi.
IR: Lalu mengapa Pemerintah AS terlibat dalam diplomasi dengan Teheran?
DP: Pemerintah AS terlibat dalam diplomasi dengan Teheran karena kekuatan brutal bukanlah sesuatu yang alami bagi demokrasi. Kita lebih suka membahas masalah itu secara tuntas lalu menyelesaikannya. Ayah saya, yang pernah bekerja sebagai penasihat dalam urusan Uni Soviet untuk Pemerintahan Ronald Reagan, mengeluh bahwa Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memang tahu cara menulis perjanjian perikanan dengan Ottawa (baca: Kanada), tetapi bukan cara menghadapi Moskow.
IR: Seberapa banyak keruntuhan rejim Iran itu membentuk kembali Timur Tengah?
DP: Dalam sebuah artikel terbaru, saya menulis bahwa, "Berupaya mengakhiri kelangsungan hidup Republik Islam Iran itu berarti memberikan janji kepada hampir 100 juta warga Iran bahwa kebebasan dan kemakmuran mungkin bisa dicapai. Jatuhnya rejim itu menawarkan berkurangnya sabotase dan kekerasan bagi 500 juta warga Timur Tengah. Dan secara substansial membebaskan 2 miliar umat Muslim dari racun ideologi totaliter paling kuat saat ini, yaitu Islamisme."
IR: Andaikata rejim Iran runtuh, akankah Iran tetap sebagai negara kesatuan?
DP: Itu topik yang menarik. Soalnya, penutur asli bahasa Persia itu hanya mencakup setengah dari populasi Iran. Dengan kata lain, seperti Rusia, Cina, dan Ethiopia, Iran adalah kekaisaran yang berada dalam satu daratan yang mencakup banyak bangsa taklukkan, seperti Azerbaijan, Gilaki dan Mazandarani, Kurdi, Arab, Lur, Baloch, dan Turkmen. Banyak dari bangsa-bangsa ini menginginkan otonomi atau kemerdekaan. Saya tidak setuju dengan konsensus bahwa integritas teritorial Iran harus dipertahankan. Mengapa orang mengecam Inggris, Prancis, dan kekaisaran maritim lain sebagai imperialisme tetapi orang menerima kekaisaran yang berada dalam satu daratan? Mereka juga perlu dipecah.
IR: Apa dampak yang akan timbul akibat runtuhnya Republik Islam Iran terhadap Hamas?
DP: Keruntuhan Iran berarti bakal menghilangkan senjata, uang, dukungan diplomatik, dan dukungan ideologis bagi Hamas. Tetapi, mengingat betapa lemahnya kekuatan Teheran saat ini, Hamas akan kehilangan dukungannya, bahkan jika rezim tersebut masih bertahan sekalipun.





