Diwawancarai oleh Tommaso Alessandro De Filippo.
Judul yang diterbitkan dalam Il Riformista : "Il governo USA ha iniziato una guerra senza valutarne le conseguenze. Trump gioca a fare il cowboy" ("The U.S. Government started a war without assessing its consequences: Trump is playing at cowboy.").
Il Riformista: Apakah Donald Trump bersedia berbagi informasi tentang operasi dan sasaran perang dengan sekutu dalam rantai komando sebagai imbalan agar mereka mau bergabung dalam perang melawan Republik Islam Iran?
![]() Sang Koboi di Gedung Putih sebagaimana dibayangkan oleh AI. |
Daniel Pipes: Trump melihat sikapnya yang tidak bisa diramalkan sebagai aset taktis. Sampai batas tertentu memang demikian (walau ia membuatnya menjadi ekstrem sehingga akhirnya merugikan kepentingan Amerika). Saya menyebut ini fenomena "koboi di Gedung Putih". Oleh karena itu, tidak ada yang dapat memprediksi langkah Trump. Mungkin bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa. Beralih kepada pertanyaan Anda: Sikap mental atau rekam jejaknya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia melihat sekutu, dengan sedikit pengecualian Israel, sebagai pihak yang layak memperoleh kekuasaan dan punya hak istimewa untuk memengaruhi keputusannya.
IR: Mungkinkah kerusakan yang diderita negara-negara tetangga Iran akibat serangannya terhadap mereka, dari Pakistan hingga Turki dan dari Azerbaijan hingga Oman, mendorong mereka untuk campur tangan dalam konflik tersebut?
DP: Sejauh yang saya ketahui, sampai sejauh ini, para pemimpin Uni Emirat Arab, adalah satu-satunya yang mempertimbangkan tindakan militer terhadap Iran. Pertimbangan itu masuk akal mengingat UEA menderita serangan paling banyak dari Iran. Sekitar dua kali lebih banyak daripada derita yang ditimpakan Israel. Jika Republik Islam Iran selamat keluar dari perang ini, seperti yang tampaknya mungkin terjadi saat ini, agresi terhadap negara-negara tetangga yang netral ini akan lama menghantuinya, membuatnya jauh lebih terisolasi disbanding masa lalu. Ironisnya, masalah ekonomi dan keamanan yang muncul kemudian akhirnya mempercepat keruntuhan Republik Islam.
IR: Seberapa besar kerugian bagi prestise dan pengaruh AS akibat ketidakmampuannya untuk membela sekutunya dari konsekuensi serangan Iran tersebut?
DP: Sangat besar kerugiannya. Bahwa Pemerintah AS memulai perang tanpa sepenuhnya memikirkan konsekuensinya akan menimbulkan kerusakan berkepanjangan hingga akhir masa kepresidenan Donald Trump. Namun, saya berharap kegagalan Trump akan menjadi alasan yang kuat bagi penggantinya untuk tidak menirunya, tetapi untuk melakukan upaya besar yang mungkin berhasil, untuk memperbaiki masalah kebijakan luar negeri yang diciptakan Trump.
IR: Tolong jelaskan tujuan perang Teheran.
DP: Republik Islam hanya perlu bertahan hidup dari serangan AS-Israel yang masuk akal agar bisa memenangkan perang.
IR: Apa strateginya untuk mencapai tujuan tersebut?
DP: Karena kurangnya kekuatan militer yang memadai untuk mempertahankan diri di medan perang sesungguhnya, Teheran memperluas perang dengan dua cara. Yang satunya, dengan bertindak bodoh dan satunya lagi dengan bertindak cerdas. Dengan menyerang negara-negara tetangga dan menghalangi jalur pelayaran niaga melalui Selat Hormuz. Cara pertama secara cuma-cuma mengasingkan pemerintah yang dibutuhkan Teheran. Cara kedua memberinya kekuatan global yang, tampaknya, tidak dipersiapkan oleh siapa pun. (Bahkan jalur pipa yang mengangkut bahan bakar negara-negara Teluk Persia menuju Laut Merah pun rentan terhadap serangan Houthi.)
IR: Dapatkah Israel menjadi kekuatan ekonomi dan militer Timur Tengah yang dominan?
DP: Israel tidak bisa menjadi kekuatan ekonomi dan militer yang dominan di Timur Tengah. Meski berpenduduk sedikit (10 juta) dan menderita banyak masalah domestik, Israel punya aset yang seharusnya membuatnya menjadi negara yang dikagumi oleh sebagian besar negara lain. Tingkat kelahiran yang sangat tinggi, sektor teknologi tingginya luar biasa, dan punya kemauan yang kuat untuk hidup dan makmur. Israel pun pernah diinvasi enam pasukan musuh pada hari kelahirannya pada tahun 1948 dan tidak pernah menikmati kedamaian selama 78 tahun berikutnya. Muak dengan penderitaan ini, Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu mengupayakan terjadinya perubahan rezim di kalangan musuh bebuyutannya, Iran. Saya ragu upaya ini akan berhasil. Bahkan jika ia berhasil, Turki di bawah pemerintahan kaum Islam radikal akan terus menantang dominasi regional Israel.***
Untuk mendapatkan artikel terbaru lewat email, berlanggananlah mailing list gratis daniel pipes.
Artikel di atas boleh dikutip; juga boleh diterbitkan ulang atau diteruskan kepada pihak lain asal disajikan sebagai satu kesatuan utuh dengan menyertakan informasi lengkap mengenai penulis, tanggal, media tempat artikel ini diterbitkan, dan URL artikel yang sebenarnya.


