Multimedia untuk wawancara ini
Empat anggota DPR dari Partai Republik membelot menentang Presiden Trump minggu ini dan bergabung dengan Partai Demokrat berusaha mengesahkan resolusi yang menuntut diakhirinya perang di Iran. Jumlah mereka kecil, tetapi berarti. Dan bagi Dr. Daniel Pipes, pendiri Middle East Forum, pembelotan ini menandakan sesuatu yang lebih besar.
Pipes bergabung dengan pembawa acara tamu Sheila Gunn Reid dalam Ezra Levant Show yang diselenggarakan setiap Kamis untuk membahas apa arti Pemilu pendahaluan bagi Trump, bagi perang, dan bagi gerakan kaum Islam radikal yang lebih luas yang tengah mengamati semua persoalan itu dari pinggir lapangan.
"Presiden Trump sudah tidak bisa sepenuhnya mengendalikan DPR dan Senat," kata Pipes, lalu memperingatkan bahwa Pemitu pendahuluan mencerminkan meningkatnya perasaan di kalangan warga Amerika bahwa perang tidak berjalan baik dan bahwa Kongres perlu ikut campur dalam persoalan bagaimana perang itu diakhiri.
Berdasarkan Undang-Undang Kekuatan Perang, seorang presiden dapat melancarkan perang selama 60 hari tanpa membutuhkan persetujuan Kongres. Tidak lebih. Pemungutan suara DPR, menurut Pipes, adalah perwakilan rakyat yang menarik garis batas waktu tersebut.
Perang itu sendiri dimulai Februari 2026. Sangat ambisius hingga melampaui batas. Trump menyerukan rezim Iran digulingkan, program nuklirnya dihapus dan peralatan (capabilities) rudal balistik Iran dibongkar.
"Anda tidak bisa melakukan semua itu," kata Pipes, terutama tanpa mengerahkan pasukan darat yang signifikan, dan tanpa terlebih dahulu membangun dukungan rakyat yang dibutuhkan untuk upaya semacam itu.
"Sama sekali tidak ada upaya pada bulan Februari dan Maret lalu untuk mendapatkan dukungan rakyat," katanya. "Dan sekarang semua orang Barat, semua orang beradab, membayar harga untuk itu."
Jadi, ke mana konflik ini akan bergerak? Pipes mengatakan hasil paling mungkin dari perang itu menyerupai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) era Obama tahun 2015. Yaitu bakal ada kesepakatan yang dinegosiasikan yang memberikan beberapa manfaat bagi kedua belah pihak tetapi membiarkan Republik Islam tetap utuh dan berkuasa.
Strategi Iran, katanya, hanyalah mengulur waktu. Trump masih punya waktu dua setengah tahun lagi. Sementara itu, Teheran punya alasan pendorong untuk bernegosiasi secara perlahan sambil menunggu ada pemerintahan yang berpotensi lebih akomodatif pada Januari 2029.
Sheila mengungkapkan implikasi perang Iran - Israel dan Amerika Serikat bagi Kanada. Dia mencatat bahwa menurut perkiraan, beberapa ratus hingga beberapa ribu orang yang terkait dengan rezim Iran sudah hidup bebas di jalanan Kanada — dan pemerintah Liberal tidak mau atau tidak mampu mendeportasi mereka.
Pipes sepakat bahwa ancaman domestik itu nyata. Ia menyebutnya sebagai satu detail dari fenomena yang jauh lebih besar.
"Islamisme adalah ideologi totaliter paling dinamis di dunia saat ini," kata Pipes. "Bukan komunisme, bukan fasisme — Islamisme."
Sejak 2013, dia berpendapat bahwa gerakan itu mengalami penurunan global di negara-negara mayoritas Muslim tradisional. Tetapi tren itu, ia peringatkan, kini berisiko berbalik.
"Jika kesepakatan damai Iran – Israel dan Amerika tidak baik," katanya, "ia bisa berbalik menjadi lebih kuat lagi."
Untuk mendapatkan informasi terbaru lewat email, berlanggananlah mailing list gratis daniel pipes.

