Sana Maqbool: Untuk memulai bagian pertama pembicaraan kita mengenai situasi di Timur Tengah, telah bergabung bersama kita Dr. Fadi Hilani, seorang senior fellow sekaligus Direktur Program Timur Tengah di National Council on US-Arab Relations. Juga bersama kita bergabung Dr. Daniel Pipes, pendiri Middle East Forum. Terima kasih banyak kepada Anda berdua karena telah sudi bergabung menjadi bagian dari program berita ini. ...
Dr. Daniel, saya juga ingin tahu pandangan Anda terkait dengan retorika keras dari Pemerintah AS, di mana Trump menyatakan akan menyerang Iran dengan sangat keras sebagai balasan atas serangan Iran. Tentu saja, banyak sanksi ekonomi yang juga telah dijatuhkan. Namun, menurut Anda, apakah itu berarti AS akan mempertimbangkan langkah militer dalam situasi ini dan meningkatkan eskalasi situasi saat ini jika dilihat dari pernyataan-pernyataan yang kita dengar dari Pemerintah AS? Tentu ada banyak retorika dari Presiden AS sebelumnya yang tidak ditindaklanjuti dengan tindakan nyata. Namun, apakah menurut Anda situasi saat ini bisa mengarah ke sana juga?
Daniel Pipes: Penyerangan mungkin saja terjadi dan itu mengejutkan saya. Pada dasarnya, konflik militer sebelumnya berakhir imbang. Tidak ada pihak yang menang/ Kedua belah pihak sebenarnya tidak ingin kembali terlibat dalam konflik militer. Jadi, situasi ini telah berkembang menjadi konflik ekonomi, di mana masing-masing pihak berharap pihak lain akan menyerah lebih dulu dan berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan tekanan ekonomi kepada pihak lawan.
Dan ya, mungkin saja sesekali terjadi insiden militer seperti yang kita lihat kemarin. Saya sangat heran jika insiden itu berubah menjadi perang habis-habisan lagi, terlepas dari retorika dan ancaman yang berulang-ulang dari Presiden Trump—atau ancaman serupa yang berulang kali muncul dari Teheran. Jadi, ini soal ekonomi. Siapa yang akan "berkedip" lebih dulu? Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Apakah Iran akan menyerah lebih dulu, mengingat mereka kini menderita dalam berbagai hal terkait dengan persoalan pangan dan pasokan listrik? Ataukah justru dunia luar yang akan memberikan tekanan kepada Amerika Serikat, atau tekanan domestik terhadap presiden untuk mengatasi inflasi, menangani kenaikan biaya energi dan sebagainya?
Situasi seperti ini sudah berlangsung sekitar empat bulan tanpa ada indikasi yang jelas ke mana arahnya. Masing-masing pihak tetap teguh pada pendiriannya. Kondisi ini bisa terus berlanjut untuk waktu yang cukup lama. Meski demikian, perlu saya tambahkan bahwa setelah pemilihan umum bulan November di Amerika Serikat, Presiden Trump akan merasa lebih leluasa melakukan tindakan militer dibandingkan sebelum pemilu tersebut.
Maqbool: Baik. Namun, Dr. Daniel, jika melihat bagaimana Iran merespons sanksi dan tekanan ekonomi pada masa lalu, tampaknya mereka bertindak seolah-olah tidak banyak yang bisa mereka pertaruhkan. Mungkin mereka mampu mempertahankan sikap yang kuat dan lebih kokoh meski ada sanksi-sanksi tersebut. Apakah situasi saat ini berbeda dari pola tindakan Iran pada masa lalu?
Pipes: Tidak, pada dasarnya pihak Iran bersikap seperti apa yang mereka sebut sebagai "ekonomi perlawanan" selama hampir setengah abad terakhir. Iran sangat siap menghadapi situasi seperti ini. Amerika Serikat justru tidak siap. Jadi, ini masalah baru bagi Amerika Serikat. Juga masalah bagi sebagian besar dunia. Rezim Iran telah siap untuk ini dan tahu apa yang mereka lakukan. Mereka menuntut banyak hal dari rakyatnya. Mereka membatasi akses rakyat terhadap kebutuhan ekonomi yang wajar, namun mungkin bisa lolos dari dampaknya. Pada awal tahun 2026 kita lihat bagaimana rezim Iran menindas rakyat dengan membunuh puluhan ribu rakyatnya. Rakyat jadi takut dan tak berdaya. Akankah mereka bangkit kembali? Tak satu pun dari kita bisa memprediksinya. ...
Maqbool: Dr. Daniel, terkait meningkatnya situasi konflik sebelumnya, banyak negara Timur Tengah yang menjadi sasaran serangan Iran yang ditujukan pada aset-aset AS. Bagaimana Anda melihat perbedaan situasi saat ini dibandingkan dengan apa yang kita saksikan pada awal konflik? Apakah akan ada perubahan cara negara-negara tersebut merespons serangan semacam itu sekarang? Atau apakah Anda melihat perubahan dinamika di Timur Tengah—mengingat front lain sudah terbuka karena kerja sama antarnegara itu bakal berbeda sehingga memicu banyak perubahan pada situasi yang dihadapi Iran saat ini?
Pipes: Sebelum menjawab pertanyaan Anda, izinkan saya menjawab pertanyaan Anda sebelumnya. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Saya cenderung berpendapat AS akan menyerah lebih dulu. Seperti saya katakan, pihak Iran sudah siap menghadapi momen ini. Mereka siap menghadapinya dengan cara yang tidak dimiliki oleh Pemerintah AS. Jadi, meskipun berat hati, saya memprediksi pihak Iran-lah yang akan unggul.
Mengenai pertanyaan Anda saat ini, menurut saya rezim Iran melakukan kesalahan fatal dengan menyerang Emirat, Saudi, Bahrain dan sebagainya. Yang paling akhir, ia menyerang Yordania. Itu kesalahan besar. Mereka membuat banyak negara tetangga menjauh—renggangnya hubungan itu akan terasa dampaknya bertahun-tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun ke depan. Berlawanan dengan harapan para pemimpin di Teheran, pemerintah negara-negara tetangga tersebut tidak menjauhi Amerika Serikat ataupun Israel. Kenyataannya. mereka malah cenderung dekati Washington. Jadi, ini salah. Iran pun terus saja melakukan kesalahan ini—bahkan baru kemarin mereka menyerang pangkalan-pangkalan AS di Yordania. Mereka beranggapan bahwa ini langkah yang tepat. Padahal bukan, namun mereka terus melakukannya. ...
Multimedia untuk diskusi ini
Video
Maqbool: Dr. Daniel, apakah menurut Anda ada pihak atau negara mana pun di Timur Tengah yang memberikan dukungan kepada Iran? Secara khusus, apakah Oman mendukung Iran—mengingat posisinya di Selat Hormuz. Atau mungkinkah bisa tercapai kesepakatan yang membantu mengatasi tekanan ekonomi saat ini, atau untuk memanfaatkan posisi selat tersebut lebih jauh guna mengambil sikap yang lebih kuat? Apakah menurut Anda ada aktor tertentu yang saat ini mendukung Iran?
Pipes: Tidak ada di negara di Timur Tengah atau di manapun yang mendukungnya. Iran sangat terisolasi di Timur Tengah. Anda menyebutkan Oman; itu satu-satunya negara yang bekerja sama dengan Teheran sampai batas tertentu. Namun, Iran punya pendukung penting, yaitu Tiongkok. Tiongkok membeli sekitar 90% minyaknya. Tiongkok menyediakan berbagai macam impor barang dengan guna ganda bagi Iran. Tiongkok adalah pelindung Republik Islam tersebut di kancah dunia. Jadi, Iran jelas terisolasi di Timur Tengah. Namun, posisinya tidak terlalu terisolasi di kancah dunia.
Maqbool: Baik. Terima kasih banyak Dr. Daniel karena telah bergabung dengan kami dan menjadi bagian dari program berita ini. ***
Untuk mendapatkan artikel terbaru lewat email, berlanggananlah mailing list gratis daniel pipes.

